DENPASAR – Bali menjadi provinsi pertama di Indonesia yang memulai Gerakan Pilah Sampah secara masif. Gerakan ini ditandai dengan Apel Siaga Pilah Sampah di Lapangan Puputan Margarana Niti Mandala Denpasar, Selasa (7/7). Kegiatan ini merupakan rangkaian ground breaking Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang akan dilaksanakan pada Rabu (8/7).
Apel dipimpin Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan RI, Hanif Faisol Nurofiq, dan didampingi Gubernur Bali Wayan Koster. Ribuan peserta dari pelajar, DLH, TNI, Polri, pemerintah daerah hingga masyarakat turut hadir sebagai bentuk penguatan pengelolaan sampah berbasis sumber.
Gubernur Koster menegaskan pengelolaan sampah adalah agenda penting untuk menjaga lingkungan dan ketahanan pangan Bali. Ia mendorong paradigma baru: sampah harus diselesaikan dari sumber, bukan hanya di TPA. Hal ini sesuai Pergub No.47/2019 dan SE Gubernur No.9/2025 tentang Gerakan Bali Bersih Sampah. "Sampah organik bisa jadi pupuk, sampah nonorganik bisa didaur ulang. Ini bukan hanya teknis, tapi perubahan budaya sesuai visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali," ujarnya.
Wamenko Hanif mengapresiasi capaian Bali yang menempati posisi ketiga Indeks Ketahanan Pangan Nasional dengan nilai 79,89, dan Kabupaten Badung sebagai kabupaten terbaik. Namun ia juga menyoroti tantangan besar, produksi sampah Bali mencapai 3.500 ton per hari. Ia meminta seluruh kabupaten/kota mempercepat sistem pengelolaan berbasis sumber agar persoalan sampah di Bali tuntas paling lambat Desember 2026. "Bali adalah wajah Indonesia dan destinasi wisata dunia. Bali bersih tidak bisa ditawar lagi," tegasnya.
Sebagai penutup, diberikan penghargaan kepada 10 desa dan desa adat terbaik dalam pemilahan sampah, dari Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan, hingga Buleleng. Masing-masing juga menerima bantuan alat pengolah sampah organik skala rumah tangga dari BRIN bernama "Lahsamor".

